Utamakan Kemampuan Istemewa Perusahaan

Lihatlah Zara, manufaktur dan peritel pakaian jadi dari Spanyol. Sebenarnya, tidak ada yang baru dari bisnis ritel. Namun, Zara dapat mengirim gaya-gaya baru ke gerai-gerainya dalam waktu yang cepat: 3-6 enam minggu, sementara kompetitor perlu hingga lima bulan. Atau, cara inovatif Bristol-Myers Squibb dalam penggunaan teknologi terkini untuk memperbaiki kinerja proses penemuan pengobatan baru sehingga memangkas waktu produksi. Baik Zara maupun Squibb telah berupaya menghasilkan perbaikan kinerja yang lebih tinggi.

Melepaskan Diri. Ya, perusahaan berkinerja tinggi selalu mencari cara agar bisa menghasilkan produk, memberi layanan atau mengaplikasikan model bisnis terbaru yang membedakan mereka dari kelompok lain di industrinya. Contoh, bila berkaitan dengan teknologi baru, mereka menghindari filosofi ”me too”. Bagi mereka, lebih baik mencari cara baru untuk mengadaptasi teknologi tersebut sehingga menjadikan mereka yang tercanggih. Dengan demikian, mereka menjadi organisasi dengan kemampuan khas yang perlu dipertahankan.

Bukti nyata adalah Amazon.com. Perusahaan yang memulai bisnis menjual buku secara online ini dengan cepat meningkatkan skala usahanya lewat penambahan produk-produk baru sehingga menjadi raksasa eCommerce. Akan tetapi, lantaran margin keuntungannya tipis, Amazon tidak mudah memuaskan para pemangku kepentingan (stakeholders). Berangkat dari hal itu, CEO Amazon Jeff Bezos pun mengalihkan taktik bisnis dengan mengubah diri menjadi perusahaan teknologi.

Caranya, Amazon mulai dengan menawarkan inovasinya menjadi jasa online. Dengan jasa web dari Amazon, para pedagang dapat menggunakan sistem pemesanan yang telah dipatenkan, yaitu 1-Click (kemampuan search-nya), untuk menjual lebih banyak produk. Hasilnya, tanpa harus menanggung biaya distribusi atau pengelolaan, dan mengambil 15% komisi dari setiap penjualan, untuk jangka panjang pendapatan Amazon sudah di tangan.

Mesin Aplikasi Inovasi. Lantas, bagaimana perusahaan dapat menciptakan program inovasi yang sukses? Penelitian Accenture menunjukkan tiga komponen utama.

Pertama, menyatukan kemitraan laboratorium-bisnis. Produk dan jasa baru yang hebat tidak hanya meluncur dari laboratorium penelitian dan pengembangan. Program inovasi yang berhasil memerlukan komunikasi dua arah dan penyatuan pikiran antarkelompok dengan perspektif yang berbeda.

Kedua, melihat pada arah yang benar. Usaha berkinerja tinggi selalu mencari aplikasi teknologi untuk kepentingan nilai bisnis. Penyedia transportasi di Amerika Serikat merupakan contoh bagus dalam mengambil kesempatan tersebut. Setiap tahun, industri ini harus menelan kerugian US$ 10 miliar hanya dari pencurian truk dan kargo. Solusinya terdapat pada radio frequency identification (RFID). Tag dan sensor RFID membuat produk apa pun dan dalam segala bentuk pengiriman menjadi produk pintar plus interaktif. Dengan memanfaatkan RFID, truk apa pun dan semua personalia yang berhubungan dengan kendaraan dapat diikuti sekaligus diverifikasi.

Ketiga, ke pasar secara cerdas. Bila inovator andal menemukan ide yang menjanjikan dan ingin memperkenalkan ke pasar, harus melalui percobaan untuk memastikan segala kemungkinan.

Aksi Inovasi. Bagaimana inovasi dapat diaplikasikan dalam perusahaan, bisa melihat BP. Para peneliti perusahaan ini aktif mencari ide hingga pelosok dunia. Setiap tahun, BP juga mengundang 50 pemimpin bisnis dalam bidang teknologi baru atau inovasi proses yang berpotensi memberi dampak yang tinggi. Forum ini termasuk tamu pembicara dari pebisnis lain yang menggunakan teknologi baru, sesi pengasahan otak, serta diskusi dengan para ahli dan akademisi tingkat dunia.

Accenture sendiri merupakan fasilitas Energy Ideas Exchange yang menyediakan pandangan interaktif dan menyeluruh sehingga klien dapat membangun kemampuan khasnya. Dan faktanya, organisasi yang fokus pada inovasi selalu mencari di luar batas temboknya untuk mendapatkan teknologi yang memiliki masa depan. Eksekutif dari Komisariat Pendapatan Irlandia, misalnya, menghadiri workshop di Accenture Technology Labs di mana mereka melihat prototipe integrasi pengetahuan yang dapat diaplikasikan pada pengumpulan pajak.

Mengambil Alih Kemudi. Organisasi berkinerja tinggi, berbeda tidak hanya pada tataran ide, tapi juga pada eksekusi. Dengan demikian, para CEO mau tidak mau harus turun tangan sendiri untuk mengendalikan inovasi pada tataran realitas.

Pemimpin Xerox, John Seely Brown, menantang anggota organisasinya untuk dapat membuat mesin fotokopi tanpa suara. Harapan tersebut membuat pegawai Xerox memikirkan mesin tersebut dari awal sehingga tidak ada suku cadang yang bergerak, yang akhirnya memunculkan kehebohan industri.

Pemikiran-pemikiran inilah yang harus dipikir ulang oleh perusahaan bisnis agar mampu melesat, dan berbeda dari para kompetitornya. Jadi, kalau masih ada yang bertanya, “Bisnis apakah yang sebaiknya saya lakukan?” Jawaban saya selalu sama, “Ambil bisnis apa pun, jalankan dengan benar. Lalu, cobalah mencari cara untuk membangun kemampuan yang khas untuk usaha Anda.”

Oleh : Julianto Sidarto
Country Managing Director dari Accenture, konsultan manajeman, teknologi dan pelaku alih daya. (Swa.co.id)