Proteksi Hati Dari Efek Samping Obat Secara Alami

Indonesia terkenal dengan khasanah tanaman obatnya. Bahkan kekayaan alam Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Pemanfaatan tanaman untuk mengobati suatu penyakit sudah dilakukan sejak dulu, terbukti dengan adanya ramuan tradisional yang dipercaya berkhasiat mengobati suatu penyakit. Saat ini slogan "Back to Nature" menjadi trend dunia kesehataan. Tak hanya di Indonesia tetapi hingga dunia medis barat.

Menurut Prof. DR. Dr. Didik Tamtomo, PAK, M.Kes yang merupakan Guru Besar Ilmu Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, ada 3 kategori obat yang dihasilkan dari tanaman yaitu jamu, herbal, dan fitofarmaka.

Jamu, menurut dokter yang memang yang sangat concern dengan pengobatan tradisional Indonesia khususnya pengobatan herbal, adalah obat yang secara empiris digunakan turun temurun. Sedagkan herbal sudah lebih terstandar, karena merupakan tanaman obat yang sudah mengalami uji praklinis dari segi khasiat, keamanan dan dosis pada hewan percobaan. Yang terakhir, fitofarmaka, merupakan tanaman obat yang sudah mengalami uji klinis untuk efikasi dan keamanan terhadap manusia.

Profesor yang Disertasinya tentang pengobatan tradisional berjudul Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan ini, telah mengunakan beberapa tanaman obat untuk menyembuhkan pasien yang banyak dijumpai dalam praktik sehari-hari. Misalnya tanaman obat yang dapat digunakan sebagai hepatoprotektor untuk pasien yang mengalami masalah dengan fungsi hati. Hepatoprotektor alami bisa menghindari efek samping yang berasal dari obat-obatan yang bersifat toksin didalam tubuh.

Hepatoprotektor yang ia gunakan adalah Turmeric yang merupakan zat aktif dalam rimpang kunyit dan temulawak (Curcuma xanthorrhizae) dari familia Zingiberaceae. Selain turmeric, ada juga senyawa kimia curcuminoid, demethoxycurcumin dan bisdemethoxycurcumin yang berperan sebagai detoksikasi dan antioksidan dengan cara meningkatkan aktivitas enzim Gluthatione S-transferase (GST) serta kelompok enzim Gluthatione lain (GS-x) dalam hati. Curcumin juga mampu melindungi eritrosit dan haemoglobin dari oksidasi yang disebabkan oleh senyawa nitrit. Curcumin dapat meningkatkan sintesa protein hepatoglobin dan hemopexin yang terdapat dalam hati sehingga timbal yang berikatan dengan hemoglobin dapat didestruksi dan dinetralisasi di hati

Hepatoprotektor lain adalah Milk thistle (Silybum marianum) dengan kandungan aktif adalah Silymarin. Silymarin sudah lama digunakan di Eropa sebagai tanaman obat. Sudah banyak penelitian ilmiah terhadap milk thistle, salah satunya penelitian Morgan Stanley Children's Hospital of New York-Presbyterian dan Columbia University Medical Center yang menemukan dampak perlindungan hati oleh milk thistle pada anak yang menerima kemoterapi kanker.

Silymarin melindungi hati dengan merangsang pembentukan sel-sel hati baru. Dengan bertindak sebagai antioksidan, ia menghambat pembentukan peroxidation silymarin yang diakibatkan aktivitas radikal bebas sehingga membantu mengurangi atau melindungi hati dari kerusakan yang disebabkan oleh obat-obatan, alkohol dan berbagai racun lainnya.

Dandelion root atau akar bunga dandelion (Taraxacum Officinale) juga bisa berfugsi sebagai hepatoprotektor. Menurut the British Herbal Pharmacopoeia, kandungan aktifnya yang unik yaitu eudesmanolide, germacranolide, sesquiterpene, flavonoid, dan sterol, memiliki aktivitas sebagai pelindung fungsi hati, kolagoga dan menjaga fungsi saluran cerna.

Yang terakhir adalah pale catechu yang memiliki kandungan aktif catecin, catechutannic acid, quercetin dan tanin. Zat aktif ini bekerja sebagai astringen untuk menjaga kondisi membran mukosa dan mencegah perdarahan saluran cerna. Ditambahkan Didik, bentuk sediaan produk natural sebagian besar memiliki sifat hidrofobik, tidak dapat larut dalam air. Agar efektif, komponen zat aktif harus dicampur dahulu dengan pelarut membentuk mikroemulsi. Teknik ini biasa ditemukan dalam sediaan softgel.(Farmacia)