Meloxicam, Berisiko Rendah terhadap Jantung dan Ginjal

KONGRES Eular (European League Against Rheumatism), sebuah kongres internasional yang menyoroti masalah penyakit rematik, telah diselenggarakan baru-baru ini di Stockholm, Swedia. Kongres yang diikuti para ahli rematik dari berbagai belahan dunia tersebut membahas secara sungguh-sungguh bagaimana mengatasi penyakit nyeri tulang, yang diindikasikan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Meskipun belum menemukan solusi tuntas untuk mengatasi problema tersebut, namun para peserta menemukan kemajuan berarti melalui berbagai pemaparan oleh para peneliti dari Amerika dan Jerman.

Peneliti Universitas California, Los Angeles, Profesor Daniel Furst membeberkan suatu data meta-analisa dari 48 penelitian dan observasi klinis dari meloxicam database, terhadap 117.755 pasien yang diobati dengan meloxicam dan obat penahan rasa sakit tradisional lainnya.

Hasil temuannya menunjukkan, risiko efek samping GI (gastrointestinal) dari meloxicam lebih rendah dan secara keseluruhan tidak mempunyai indikasi akan risiko efek samping pada kardiovascular, keracunan ginjal dan hati dibandingkan dengan penggunaan non-COX-2 selective NSAIDs.

Para peserta kongres juga mengungkapkan fakta COX-2 selektif inhibitor meloxicam, yang amat terkenal di bidang pengobatan rematik, memiliki risiko rendah terhadap GI dan gangguan jantung. Data ini juga mampu menghapus keraguan para pasien dan dokter yang selama ini mengkhawatirkan efek samping obat tersebut. Secara meyakinkan pula, penemuan obat ini mampu mematahkan reputasi obat-obat pendahulunya, seperti celecoxib dan rofecoxib, yang sudah dikenal bertahun-tahun.

Puas

Sementara itu, Profesor Henning Zeidler, dari Medical School Hannover, Jerman melaporkan, pada observasi prospektif berskala besar selama 3 bulan terhadap 4.000 praktek medis, ada 13.307 pasien yang menerima anjuran untuk menggunakan meloxicam.

Mereka diketahui sebagai pasien rematik berisiko tinggi. Dari jumlah itu, 12 persen di antaranya pernah mengalami risiko gangguan lambung/usus yang serius, 24 persen pernah mengalami gangguan kardivascular dan 26 persen pernah menerima pengobatan hipertensi.

Setelah ditangani, 85 persen dari pasien tersebut menyatakan puas dengan pengobatan meloxicam. Sementara dari jumlah itu pula, 21 persen mengaku sebelumnya menggunakan pengobatan non-COX-2 selective NSAIDs. Walaupun Prof Zeidler melakukan penelitian terhadap para pasien berisiko tinggi, namun terbukti kemampuan toleransi ginjal dengan meloxicam, cukup baik.

Selain para ahli di bidang pengobatan rematik tampil dalam kongres itu, juga yang menarik adalah tampilnya Departemen Riset dan Pengembangan (R & D) Boehringer Ingelheim dari Jerman.

Grup perusahaan yang dikenal unggul dalam produksi obat-obat antirematik ini sedikitnya telah mengeluarkan seperlima pendapatan bersihnya untuk kepentingan riset dan produksi obat resep.

Perusahaan yang berkantor pusat di Ingelheim Jerman itu adalah salah satu dari 20 perusahaan farmasi terkemuka di dunia, yang sebenarnya lebih banyak berkonsentrasi pada produk obat kesehatan manusia dan hewan. Namun, karena keseriusannya dalam meneliti kegunaan obat antirematik, maka perusahaan yang mempunyai 140 kantor cabang di 42 negara di dunia itu, unggul dalam pengobatan rematik.

Departemen Riset dan Pengembangan Boehringer kini terus mengembangkan penemuannya itu, dengan mengamati indikasi Meloxicam (Movi-Cox), terutama untuk perawatan gejala osteoarthritis, rheumatoid arthritis dan ankylosing spondylitis. Karena di tiap negara indikasinya berbeda-beda.

Saat ini obat tersebut telah dipakai lebih dari 100 negara di seluruh dunia, dengan jumlah pemakai lebih dari 70 juta pasien.(A18-35). (Suara Merdeka)