Pertama di Indonesia Alat Pendeteksi Kanker

Cyclotron & PET-CT Center RS Gading Pluit Jakarta

Penyakit kanker menjangkit lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia dan dilaporkan lebih dari 4,4 juta penderita kanker terdapat di kawasan Asia. Di Amerika, angka kematian oleh karena penyakit kanker menempati urutan kedua teratas, di belakang penyakit jantung.

Menurut para pakar, deteksi dini penyakit kanker bisa membantu dengan signifikan mengurangi angka kematian tersebut. Banyak alat-alat yang dikembangkan untuk tujuan pendeteksi dini tersebut, seperti CT-Scan (Computed Tomography), MRI (Magnetic Resonance Imaging), PET (Positron Emission Tomography), dll.

Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat, maka Dunia Kedokteran membuat terobosan baru lagi dengan munculnya alat canggih untuk mendeteksi dini penyakit kanker yaitu dengan menggunakan alat Cyclotron dan PET-CT Scan.

PET-CT Scan adalah intergrasi dari PET dan CT-Scan yang merupakan terobosan termutakhir untuk meningkatkan diagnose penyakit kanker, sehingga alat tersebut bisa membantu para dokter dengan lebih akurat menentukan lokasi, besarnya dan penyebaran dari penyakit kanker dan juga bisa menentukan keberhasilan suatu terapi, kekambuhan dari penyakit kanker sehingga bisa digunakan sebagai dasar perencanaan pengobatan selanjutnya.

Selain untuk penyakit kanker PET-CT Scan juga bisa digunakan untuk mengukur fungsi metabolic penyakit neurologis (saraf) dan Kardiovasculer (jantung).

PET-CT Scan merupakan alat pencitra 3 dimensi berwarna untuk mendeteksi perubahan aktivitas sel di dalam tubuh manusia dengan menggunakan zat radiofarmaka yang diberikan kepada pasien sebelumnya. Radiofarmaka seperti FDG (Flurodiocxyglucose) diproduksi oleh peralatan khusus yang disebut cyclotron. Dosis yang digunakan pada pemeriksaan sangat kecil sehingga risiko paparan radiasi sangat rendah dengan hasil pencitraan yang sangat baik.

Cyclotron dan PET-CT Scan belum lama ini (17/11) di resmikan di RS Gading Pluit Jakarta. Alat tesebut juga merupakan fasilitas pertama di Indonesia dengan tujuan untuk membantu para dokter Indonesia dalam menangani penyakit kanker yang semakin meningkat jumlahnya, sehingga pasien-pasien yang membutuhkan pemeriksaan dengan alat tersebut tidak perlu lagi pergi ke luar negeri.

Cyclotron dan PET-CT Center RS Gading Pluit tersebut diresmikan langsung oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi RI DR. Kusumayanto Kadiman dan Menteri Kesehatan RI Ibu DR. Dr. Siti Fadillah Supari, Sp.JP (K) yang diwakili oleh Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes, Dr. Farid Husein, SpB.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman mengatakan keberanian rumah sakit swasta dalam menggunakan teknologi mutakhir di bidang kesehatan, Cyclotron dan PET-CT Scan, merupakan inovasi yang baik karena dapat menekan jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri.

"Ada empat faktor orang berobat ke luar negeri, yaitu politik, ekonomi, teknologi, dan budaya. Faktor budaya menjadi faktor yang sangat berkaitan dengan masyarakat. Orang bangga sekali kalau sudah ke luar negeri untuk berobat," ungkapnya.

"Gabungan antardisiplin menjadi inovasi yang baik. Pelayanan kesehatan dengan penerapan teknologi memberikan nilai yang maksimal, tidak hanya dalam bidang kesehatan, tapi juga di bidang teknologi," ungkap Menristek.

Direktur Utama RS Gading Pluit Dr Barlian Sutedja, SpB juga mengakui bahwa alat pendeteksi kanker itu juga bertujuan menekan laju penduduk Indonesia yang lebih senang berobat ke luar negeri. Alat tersebut membantu mengurangi kanker karena bekerja sedini mungkin.

“Kanker merupakan penyakit yang mematikan dan bisa menyebar di mana saja di tubuh seseorang. Deteksi dini merupakan salah satu cara mengurangi angka kematian akibat kanker,” jelas Senior Radiologist Head Department of Radiology dari RS Gading Pluit dr Tjondro Setiawan SpRad saat acara peresmian Cyclotron & Pet-CT Center di RS Gading Pluit, Jakarta.

Di lain pihak, Indonesia sebenarnya telah memiliki beberapa teknologi mutakhir hasil Litbang Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dalam bidang kesehatan, seperti renograf (alat deteksi fungsi ginjal), alat deteksi tyroid, dan X-Ray portable image processing yang telah diterapkan di tujuh rumah sakit, antara lain di Yogyakarta dan RS Gatot Subroto Jakarta.
"Memang kita telah menghasilkan alat-alat dengan teknologi nuklir, namun penerapannya memerhatikan banyak hal, seperti kebutuhan pasar dan perhitungan bisnis," papar Menristek. Namun ia menegaskan, alat-alat yang dibuat Indonesia dalam bidang kesehatan telah layak pakai karena teknologi Indonesia sudah maju. Kini tinggal menunggu investor yang berani menggunakan teknologi hasil anak bangsa.


Redaksi Idionline (IB)