Iklan dan Strategi Pemasaran

Upaya pemasaran memang bukan sekedar promosi atau memasang iklan. Pemasaran lebih luas dari itu. Namun ada rumus-rumus pengiklanan yang bisa efektif dipakai dalam aktivitas pemasaran. Rumus apa yang bisa dipakai oleh perusa¬haan dalam aktivitas pemasasannya? Melontarkan pesan (promosi) dengan jangkauan luas berulang kali. Persis seperti iklan yang menghantam konsumen secara bertubi-tubi tiap hari.

Dunia pengiklanan juga telah menunjukkan bahwa pembeli tak cukup didekati melalui satu jenis media tapi harus melalui aneka perantara. Pendekatan multi-media tidak saja dalam mengiklankan suatu produk tetapi dalam aktivitas pemasaran umumnya. Telah dibuktikan bahwa pengulangan melalui berbagai sarana bersifat menguatkan pesan itu sendiri. Berikut ini alasan-alasan mengapa Anda perlu. mengulang-ulang pesan pemasaran yang terkandung dalam aktivitas pemasaran perusahaan Anda.

1. Penerima pesan, entah pendengar atau pemirsa, bakal melupakan sekitar 80-90% dari pe¬san yang disampaikan. Hal yang wajar mengingat begitu banyaknya pesan atau rangsang-rangsang yang diterimanya sehari-harinya. Kompetisi tidak hanya dalam menjual produk tetapi juga dalam menyampaikan pesan mengenai produk itu sendiri. Semakin sering pesan An¬da mengenai sasaran, semakin besar kemung-kinannya untuk diingat … sambil melupakan pesan dari pesaing.

2. Sasaran pemasaran dan pasar itu sendiri senantiasa berubah. Karena kemajuan teknologi, karena mobilitas sosial, atau berbagai alasan lain, pasar yang hendak kita tembus tak pernah statis. Perubahan dalam pasar ini harus dikejar terus, bukannya ditunggu dengan pola pemasaran yang usang. Mengejar pasar berarti mengulang-ulang pesan-pesan dengan asumsi bahwa tiap penyampaian pesan kepada sasaran adalah untuk pertama kalinya. Tak ada kata “terlalu sering” dalam menyampaikan pesan pemasaran.

3. Jangan segan menguji gagasan baru. Atau menguji ulang gagasan yang sudah dicoba. Sasaran pemasaran senantiasa bergerak sehingga diperlukan aneka cara untuk menjangkaunya. Pendekatan yang kemarin efektif mungkin hari ini sudah berkurang, atau sama sekali tidak ada, dampaknya. Harga baru, kemasan baru, tawaran baru, atau apa pun yang telah dikaji dan dianggap mempunyai kemungkinan berhasil patut dicoba. Demikian pula dengan cara-cara yang per¬nah dipergunakan namun kurang efektif, siapa tahu kinijustru cara tersebut tepat dengan ke-hendak masyarakat.

4. Pengulangan pesan hendaknya menjangkau pula sasaran baru. Efek kejenuhan terhadap pesan perlu diperhitungkan dalam menghadapi sasaran-sasaran “tradisional”. Sasaran baru bisa berarti tambahan bisnis, yang bolehjadi menggantikan sasaran-sasaran yang sudah tidak efektif lagi untuk digarap.

5. Kenali dan dialog dengan konsumen/langganan secara kontinu. Dengan cara ini perusahaan Anda akan mampu mendeteksi apa yang menjadi kehendak konsumen. Melalui pembicaraan timbal-balik ini pula akan muncul kesempatan-kesempatan usaha baru, baik dalam ujud pesanan-pesanan tambahan atau melalui perke-nalan dengan relasi-relasi dari langganan.

Kerapkali ada keengganan dari pihak perusahaan untuk tidak terlalu sering menghubungi konsumen, dengan pertimbangan takut mengganggu langganan tersebut. Padahal, pihak lang¬ganan bisa saja menganggap tindakan menghubungi ini sebagai perhatian yang baik.

6. Sasaran pemasaran perlu “didesak” untuk membeli. Dalam menyampaikan aneka ragam pesan promosi jangan lupa untuk mendesak sa¬saran untuk melakukan pemesanan terhadap barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan Anda. Pengalaman menunjukkan bahwa penyampaian pesan perlu dilakukan beberapa kali sebelum para calon konsumen bersedia secara konkrit melakukan transaksi.

Upaya ini semakin penting dilakukan berkali-kali mengingat bahwa kadangkala kesediaan membeli datang dan pergi secara sporadis. Alangkah baiknya bila Anda, lantaran sering menawarkan barang atau jasa perusahaan perusahaan, berhasil menyodorkan tawaran pada momen yang tepat, sehingga penjualan bisa berlangsung. Alangkah sayangnya bila calon pembeli suatu saat ingin melakukan pemesanan tetapi Anda tidak ada di hadapannya, dan membutuhkan usaha untuk dihubunginnya, sehingga keinginannya tinggal keinginan tanpa realisasi apapun.

7. Mengatur kehadiran dan penampilan di muka pembeli. Pemasaran aktif, seperti iklan yang baik, mempunyai ciri: muncul setiap kali diperlukan lengkap dengan segala informasi dan dengan cara yang memikat pemirsa atau pengamat. Ini berarti bahwa kegiatan pemasaran dirancang bertolak dari jadwal kegiatan sasaran pemasaran dan bukan atas dasar kapan dan bila Anda sempat mengunjungi.

Untuk memberi kesan bahwa Anda senantiasa “hadir” bila diperlukan, terutama saat sasaran hendak melakukan pembelian, maka perlu keteraturan dalam memunculkan diri atau dalam berhubungan. Gunakan kesempat-an berhubungan untuk menampilkan produk atau jasa sebaik mungkin; lengkap dengan data informasi yang kira-kira dibutuhkan oleh calon pembeli, tidak hanya berdasarkan apa yang Anda anggap penting untuk diketahui olehnya.

8. Melakukan aktivitas pemasaran secara kon-sisten dan konsekuen. Aktivitas pemasaran hanya akan berhasil bila dilakukan secara teratur dan terus-menerus. Pengulangan pesan promosional atau kunjungan berkali-kali harus berda¬sarkan sistem kerja yang matang, yang memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan calon pembeli serta jadwal kegiatannya. Yang tak kalah penting adalah tahap kelanjutan atau “follow up”. Ini adalah tahap pengujian terhadap segala janji muluk yang sempat Anda lontarkan pada saat menawarkan produk atau jasa perusahaan Anda.

Pembeli paling benci bila apa yang diterima tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Ini akan membuatnya tidak saja enggan berhubungan dengan Anda atau perusahaan Anda tetapi mungkin pula menyampaikan kedongkolannya itu kepada relasinya. Anda tidak hanya kehilangan satu pembeli tetapi juga sejumlah calon pem¬beli. Konsekuen dengan promosi merupakan strategi pemasaran yang ampuh dan efektif.

Kehadiran yang terus-menerus dan teratur dalam aktivitas pemasaran akan tercermin da¬lam angka penjualan. Usaha yang harus dicurahkan memang bertambah, tetapi ini tak selalu berarti pembengkakan biaya. Bisa saja kehadiran sistematis macam itu dicapai melalui maksimalisasi sumberdaya serta efisiensi pola kerja.

Dengan pola seperti ini, Anda dan tim pema¬saran yang Anda pimpin akan merasakan bahwa waktu yang diperlukan untuk “menutup” suatu transaksi penjualan menjadi semakin pendek. Tahap antara penawaran (persuasi dan promosi barang atau jasa) sampai dengan kesediaan pem¬beli untuk membeli apa yang ditawarkan menjadi semakin singkat.

Hindari pola pemasaran yang sifatnya sporadis, muncul kapan saja dan kalau sempat, atau melulu menggunakan satu jenis media, atau bahkan mengulang-ulang pesan dalam ujud yang sama. Ini yang membuat sasaran pemasaran menjadi jenuh terhadap pesan pemasaran Anda dan jemu bertemu Anda. Kedelapan butir di atas bisa membantu Anda menghindari ke-adaan memprihatinkan macam itu. (Majalah Eksekutif)