Hati-Hati Menggunakan Obat Anti Nyeri

Sekali lagi tentang penggunaan obat. Penggunaan obat yang seharusnya tidak terlalu diperlukan sepanjang tidak ada alternatif lain, sebaiknya dihindarkan, karena setiap obat mempunyai efek samping baik sedikit maupun banyak yang seringkali merugikan. Saat kita mengalami gejala sakit kepala, langsung cari obat pereda sakit dengan melakukan pengobatan sendiri (self medication)tanpa konsultasi kepada ahlinya, begitu juga dengan sakit yang lainnya, padahal pemecahannya tidak selalu menggunakan obat, misalnya cukup dengan istirahat saja. Hal ini bisa dimaklumi karena begitu banyaknya iklan-iklan baik cetak maupun elektronik yang menawarkan cara mudah untuk pengobatan-pengobatan dimaksud. Berikut ini beberapa cuplikan tentang gambaran penggunaan obat anti nyeri (pereda nyeri) dan efek samping yang dapat ditimbulkan.

Antiinflamasi nonsteroid (AINS) yang secara spesifik mempunyai sejarah panjang dan banyak menimbulkan kontroversi, pada akhir 2004 lalu ditarik dari peredaran karena ditemukan efek samping yang selama ini tersembunyi, yaitu pembentukan tukak dan pendarahan saluran cerna serta serangan jantung mendadak.

Memang, selama ini dalam praktiknya dokter selalu meresepkan AINS dalam pengobatan nyeri inflamasi mulai dari tingkat ringan sampai sedang. Karena itu, para dokter diingatkan agar tidak sembarangan menuliskan resep obat antiinflamasi atau pereda rasa nyeri bagi pasien.

Ceroboh merekomendasikan obat berpotensi menambah penderitaan pasien. Sebaliknya, pasien pun sebaiknya mengungkapkan riwayat penyakitnya tanpa terpaku keluhan nyeri semata. Jangan sampai rasa nyeri hilang sesaat tetapi sumber utamanya tak terungkap.

"Pada dasarnya semua obat mengandung racun. Namun, pada takaran tertentu efek positifnya sangat dibutuhkan. Adalah tanggung jawab moral bagi dokter untuk merekomendasikan asupan obat secara proporsional kepada pasiennya," ujar Prof Dr Aznan Lelo dari Bagian Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, pada acara dinner symposium berkaitan dengan Kongres Nasional I Persatuan Dokter Ahli Farmakologi Klinik Indonesia (Perdafki), di Jakarta, pekan lalu.

Acara itu merupakan tindak lanjut dari pengumuman Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (US Food and Drug Administration/FDA) yang menarik peredaran semua obat AINS. Obat ini berisiko menimbulkan gangguan pencernaan dan kardiovaskuler, serta reaksi pada kulit.

Tampil pula sebagai pembicara dr Yoga Kasjmir yang mengulas pengobatan nyeri rematik masa kini dan dr Freddy Wilmana yang membahas kilas balik AINS.

Menurut Aznan Lelo, efek terapi dan efek samping AINS berhubungan dengan mekanisme kerja sediaan ini. Saat ini perusahaan farmasi sedang mengembangkan berbagai sediaan AINS dengan efek samping seminimal mungkin, di antaranya dengan mengubah formulasi dan penemuan sediaan AINS baru.

Hasil penemuan sediaan AINS terkini yaitu COXIB, menurut Aznan Lelo ternyata memberikan efek samping seminimal mungkin terhadap organ tubuh tertentu namun memberikan efek samping yang lebih besar terhadap organ tubuh yang lain.

Sampai saat ini diyakini bahwa setiap AINS berkhasiat sebagai analgetik, antipiretik dan antiinflamasi yang akan memberikan efek sepadan apabila digunakan dosis yang sepadan pula. Aznan Lelo memberi contoh, antara diclofenac dengan meloxicam tidak ada perbedaannya dalam hal khasiat analgetik antiinflamasi, baik diberikan per oral maupun injeksi. Namun khusus untuk golongan COXIB tidak demikian. Efek analgetik celecoxib (200 dan 400 mg) lebih rendah dari pada AINS klasik ibuprofen (600 mg) pada penanggulangan nyeri akut. "Kelihatannya makin spesifik suatu sediaan menghambat COX-2, makin minimal khasiat analgetiknya. Bahkan, banyak pakar mempertanyakan keuntungan penggunaan sediaan celocoxib dalam penanggulangan nyeri akut di unit emergensi mengingat harganya mahal," kata Aznan Lelo.

Menurut Lelo, sediaan COXIB (celecoxib, rofecoxib, parecoxib dan valdecoxib) umumnya mengandung gugus sulfa seperti sulfonamid. Oleh karena itu, bagi mereka yang alergi dengan sulfonamid akan juga alergi terhadap celexocib. "Biasanya, makin panjang waktu paruh AINS makin mudah terjadi akumulasi (penumpukan ) AINS di dalam tubuh yang akan diikuti dengan makin mudah terjadi efek toksik AINS dengan segala risiko. COXIB umumnya memiliki waktu paruh panjang lebih dari 12 jam," katanya.

Aznan Lelo juga mengemukakan, sediaan COXIB menunjukkan efek samping yang minimal pada saluran cerna dibandingkan AINS klasik. Akan tetapi Lelo juga mengingatkan, efek ini hanya bermakna pada penggunaan jangka pendek yaitu kurang dari 6 bulan. "Pada penggunaan yang lama nilai tambah celecoxib pada saluran cerna tidak lebih unggul daripada AINS klasik. Tidak seperti AINS klasik, COXIB tidak menghambat aktivitas trombosit," katanya.

Tentang risiko penyakit kardiovaskuler, Aznan Lelo mengemukakan, data yang ada mengi-syaratkan kewaspadaan akan risiko penyakit kardiovaskuler harus ditingkatkan bila menggunakan COXIB. Hal ini terjadi sebagai akibat hambatan aktivitas COX-2 dalam memroduksi prostasiklin yang berfungsi sebagai vasodilator dan antiaggregasi.

Bahaya COXIB pada sistem kardiovaskuler, menurut Aznan Lelo, tidak terbatas pada sistem pembuluh darah ke jantung dan otak, tetapi juga pada sistem pembuluh darah lain, misalnya ke mata, berupa gangguan penglihatan temporer yang berat.

Sementara itu, dr Yoga Kasjmir mengemukakan, nyeri akut menyerang 15-20 persen penduduk per tahun. Namun dari sejumlah penderita itu hanya 1-4 pasien yang mendapat pengobatan yang baik.

Nyeri merupakan ciri utama dari penyakit rematik. "Sampai saat ini tidak ada satu obat pun yang dapat mengatasi nyeri secara sempurna, terutama terhadap nyeri kronik," katanya.

Obat pereda nyeri sebetulnya hanya berfungsi menghilangkan gejala. Dalam menangani penderita rematik misalnya, dokter seharusnya tidak berhenti pada pemberian obat pereda nyeri, tetapi juga mencari akar masalahnya. Kalau kebetulan kadar asam urat berlebih, harus ada terapi untuk menguranginya."Jangan lupa juga menanyakan riwayat gangguan lambung. Jangan sampai gejala rematik diobati, tetapi lambung pasien jadi jebol," katanya.

Penggunaan obat pereda nyeri mendapat perhatian dari pemerintah Amerika, karena di negara itu jumlah penderitanya cukup besar, yaitu menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di rumah sakit. Penjualan obatnya pun mencapai angka 3 triliun per tahun.

Selain itu dikabarkan pula bahwa obat pereda nyeri ini juga dapat menyebabkan stroke bagi pemakainya.
Masyarakat diingatkan untuk hati-hati mengonsumsi obat pereda nyeri jenis NSAIDs dan Cox-2 seperti Diclofenac, Ketorolac, Meloxicam dan celecoxib, karena terbukti berisiko tinggi terkena kardiovaskuler-- penyakit yang berhubungan dengan gangguan pembuluh darah seperti jantung dan stroke. Di Amerika, obat-obat tersebut ditahan peredarannya sementara untuk penggantian label peringatannya.

Peringatan itu disampaikan dr Irawan Rustandi, Direktur Medis PT Pfizer Indonesia --produsen obat pereda nyeri bernama Valdecoxib-- kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (9/4), terkait dengan larangan peredaran sementara obat pereda nyeri oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika (USFDA).

"Dari data yang dikumpulkan Pfizer Indonesia, jumlah pengguna obat pereda nyeri dalam 10 tahun terakhir ini di Indonesia mencapai lebih dari 50.000 penderita," ujar Irawan Rustandi.

Hadir dalam kesempatan itu pakar rematik dr Harry Isbagio dan Kepala Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Prof Dr Handono Kalim.

Harry Isbagio menjelaskan, selama ini semua obat pereda nyeri memiliki efek samping terhadap lambung dan kulit. Jika dipergunakan lama hingga 18 bulan, obat-obat semacam itu bisa melubangi usus lambung dan gangguan kulit yang cukup parah berupa bercak merah di sekujur tubuh.

"Berkat teknologi terbaru, obat-obat pereda nyeri jenis terbaru golongan Celecoxib ini memang mampu meminimalisasi kerusakan pada lambung dan kulit. Namun, efek sampingnya tidak lagi ke lambung, tetapi menganggu sistem kerja pembuluh darah yang bisa menyembabkan jantung dan stroke," katanya.

Penggunaan obat pereda nyeri mendapat perhatian dari pemerintah Amerika, karena di negara itu jumlah penderitanya cukup besar yaitu menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di rumah sakit. Penjualan obatnya pun mencapai angka 3 triliun per tahun.

"Karena itu, peringatan tentang efek samping terkena kardiovasculer ini penting diketahui masyarakat karena banyak masyarakat yang menggunakan obat-obat pereda nyeri terus menerus, tanpa berkonsultasi lagi dengan dokternya," ucapnya.

Sumber : Suara Karya