Bahaya Lemak di Pinggang Kurang Disadari

Kegemukan di perut atau pinggang merupakan salah satu dari tanda sindrom metabolik. Apabila sindrom metabolik tidak tertangani, penderita dapat terserang diabetes tipe 2 serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Sayangnya, bahaya kegemukan di pinggang ini kurang disadari masyarakat.

Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan farmasi GlaxoSmithKline terhadap 12.000 orang Eropa menyebutkan bahwa sembilan dari sepuluh orang masih belum tahu bahwa kegemukan di pinggang atau obesitas sentral berbahaya bagi kesehatan.

Obesitas sentral merupakan tanda telah terbentuknya timbunan lemak di organ dalam. Karena itu, dokter menyarankan penurunan berat badan bila seseorang telah mengalami kegemukan di perut.

Menurut dr Terry Maguire, pengajar senior di Queens University, Belfast, Irlandia Utara, timbunan lemak di organ dalam terkait dengan pelapasan hormon protein yang menyebabkan inflamasi yang bisa merusak arteri dan masu k ke liver. Hal ini akan memengaruhi tubuh dalam memecah lemak dan gula darah.

Dalam survei tersebut juga ditemukan bahwa hanya seperempat responden yang menganggap obesitas berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang. "Mayoritas orang yang kegemukan masih menganggap kegemukan sebagai masalah penampilan, bukan kesehatan," kata Maguire.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa ukuran lingkar pinggang merupakan indikator yang baik untuk mengetahui risiko seseorang terhadap penyakit diabetes tipe dua. Ukuran lingkar pinggang bersama dengan tanda sindrom metabolik lainnya, yakni meningkatnya kadar trigliserida, naiknya kolesterol, dan hipertensi merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan pembuluh darah.

Oleh karena itu, ukuran lingkar pinggang dan kegemukan di area perut seharusnya tidak dianggap enteng. Laporan para ahli menyebutkan, penurunan berat badan memberi dampak yang cukup besar terhadap risiko penyakit kardiovaskular. (Kompas.com)