Pertarungan Para Business Leader Masa Depan

Persaingan ketat dengan perbedaan angka yang tidak terlalu jauh mewarnai pemilihan pemimpin bisnis di masa depan ini. Siapa saja mereka dan apa keunggulan masing-masing?

Leadership is the art of getting someone else to do something you want done because he wants to do it (Dwight Eisenhower)

Ruang yang dingin di Yogyakarta Room, Hotel Shangri-La, Jakarta, terasa seperti ruang sidang yang menegangkan. Maklum, para finalis Indonesia Future Business Leader (IFBL) 2010 harus melakukan presentasi di depan dewan juri yang terdiri dari para tokoh dan pentolan manajemen, serta top eksekutif dalam posisi duduk setengah persegi. Pertanyaan tajam kerap terlontar, membuat suasana agak tegang. Para juri itu adalah mantan Menteri BUMN Tanri Abeng, Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Abdul Ghani, CEO Master Indonesia Bambang Bhakti, pendiri Principia Learning Lab Henk T. Sengkey, dan mantan Presiden Direktur PT Jakarta Setiabudi International Tbk. Amir Abdul Rachman.

IFBL merupakan ajang untuk mencari talent pemimpin di masa depan dengan latar belakang yang berbeda baik profesi maupun industrinya. Sepuluh finalis yang masuk tahap presentasi di depan juri memiliki latar belakang yang amat beragam, mulai dari perusahaan penerbangan, distribusi, power plant, promotor musik, farmasi, hingga perbankan. “Kita harus melihat tidak hanya pada fungsinya, tetapi skala dan tantangan apa yang dia kerjakan atau the thinking challenge (tantangan untuk berpikir), dan bagaimana kedalaman keluasan wawasan. Proses ini sangat menarik,” ujar Tanri Abeng.

Di balik wajah-wajah serius para juri, sesungguhnya mereka begitu antusias dan senang melihat penampilan para finalis. Menurut Abdul Ghani, ajang ini telah menampilkan peserta dengan kapabilitas dan kapasitas yang tinggi. Hampir semua mempunyai semangat dan daya analisis yang kuat. “Mereka memiliki kemampuan merumuskan strategi dengan baik, karena perkembangan profesional leader ini sangat menentukan perkembangan bisnis Indonesia ke depan,” katanya bersemangat. Tak mau kalah dari Abdul Gani, Tanri Abeng mencermati bahwa sebagai pemimpin, mereka harus memiliki karakter kreatif, punya visi dan inovatif. Yang penting, “Mampu melihat dan mengembangkan manusia, baru kemudian ilmu teknis, accounting, SDM, dan lain-lain. Teknis itu yang terakhir,” tambahnya.

Penilaian terhadap para finalis dibagi dalam dua aspek. Pertama, konten (bobot 80%) yang terdiri dari aspek clearness, breakthrough & solution, originality, dan applicable. Kedua, konteks (bobot 20%) yang terdiri dari aspek time management, attitude & performance, serta communication skill. Aspek yang memiliki bobot tertinggi adalah breakthrough & solution dengan nilai 35%.

Akhirnya, Megawaty Khie, Direktur Pengelola Personal Systems Group Hewlett-Packard Indonesia, tampil di peringkat pertama di antara 10 finalis tersebut, disusul Ario Setra Setiadi, Presdir PT IDS Marketing Indonesia, dan Obed Fuk Liang, Direktur Ethical Sales PT Soho Pharmasi Industry. Menurut Bambang Bhakti, keunggulan Megawaty adalah pada karakter kepemimpinan yang kuat. Ia cepat belajar meskipun tidak berlatar belakang teknologi informasi. “Orang seperti Megawaty berani mengambil keputusan yang tidak populer,” ujarnya. Adapun Henk berpendapat, keunggulan Megawaty terletak pada eksekusi.

Keunggulan Ario, menurut Henk, yaitu pada kemampuannya memahami dan mengenali dirinya. “Dia punya potensi, dia tahu dan mengenal dirinya. Bukan hanya mengenal environment,” ujarnya. Adapun Obed adalah sosok yang punya komitmen dan pekerja keras. “Dia awalnya adalah orang lapangan, jadi sangat mengerti industrinya dan sangat konsisten terhadap kariernya.”

Secara keseluruhan Henk punya saran kepada para finalis sebagai future leader. Jika ingin berhasil menjadi pemimpin di masa depan, para finalis harus mengetahui konteks bisnis yang mereka hadapi. “Kalau tidak, mereka tak akan mampu memprediksi kompleksitas apa yang akan terjadi,” ujarnya.(***)

Megawaty Khie:

Sang Bintang itu telah Lahir

Ia merupakan Srikandi satu-satunya dalam kompetisi Indonesia Future Business Leader (IFBL) 2010, dan menang. Apa kehebatan dia?

Langkah kaki yang mantap mengiringi kehadiran Megawaty ketika memasuki ruang penjurian di Hotel Shangri-La siang itu, 7 Oktober 2010. Tanpa tedeng aling-aling ia langsung memperkenalkan sekaligus menawarkan produk notebook terbaik HP saat ini. Sempat terjadi gelak tawa yang hangat, maklum para juri didominasi pria, sedangkan produk yang bergambar kupu-kupu itu ditujukan bagi kalangan wanita alias for ladies (meminjam istilah Megawaty). “Bapak-bapak jika suka kupu-kupu juga boleh,” ujar wanita bernama lengkap Megawaty Khie, Direktur Pengelola Personal Systems Group HP Indonesia ini sambil tersenyum simpul.

Bagaikan secangkir welcome drink tawaran Megawaty itu langsung memikat para juri dan mereka yang hadir dalam ruangan itu. Seperti tak ingin kehilangan momen terbaiknya, wanita kelahiran 4 November 1970 ini langsung melakukan presentasi yang begitu cepat, lugas dan fokus. Sejumlah pertanyaan yang begitu antusias dari para juri dijawab Megawaty dengan cepat dan komprehensif. Tak bisa dimungkiri, saat itu aura sang juara langsung memancar dari diri penyandang BSc. bidang pemasaran dari South Illinois University, Carbondale, Amerika Serikat ini. Dan, ketika ia terpilih menjadi juara pertama IFBL 2010 tampaknya hal itu sudah dapat ditebak. Peserta wanita satu-satunya ini – meminjam slogan iklan sebuah produk – memang layak dapat bintang. Begitulah kalimat yang tepat untuk kemenangan Megawaty.

“Megawaty memiliki karakter yang kuat sebagai seorang leader. Ia mampu memunculkan karakter kepemimpinannya, dari cara bicara, intonasi, dan bahasa tubuh,” ujar Bambang Bhakti, CEO Master Indonesia, yang juga salah seorang Dewan Juri IFBL 2010. Di samping mampu menjelaskan secara runtut presentasinya, Bambang menambahkan, juga terlihat originalitas pemikirannya dan mampu membangun tim. “Ia juga mampu menghadapi kompleksitas di industri teknologi informasi yang persaingannya sangat ketat,” mantan Dirut Merpati Airlines ini mengungkapkan kekagumannya pada Megawaty. “Orang seperti Megawaty berani mengambil keputusan yang tidak populer,” Bambang menegaskan.

Hasil penilaian menunjukkan, angka yang diraih Megawaty berada jauh di atas peserta yang lain dengan total skor 87,15. Bandingkan dengan pemenang nomor dua dan tiga yang mendapat angka total 78,40 dan 78,19. Keunggulan Megawaty pada atribut clearness sebesar 94 dan time management 90. Pencapaian skor 94 pada atribut clearness ini merupakan angka yang paling tinggi dibanding finalis IFBL 2010 lainnya. Bahkan, beberapa juri memberikan poin100 padanya untuk atribut ini. Hal ini menunjukkan keunggulan dirinya pada saat menjabarkan program dan strategi kerja.

Wanita berusia 40 tahun ini bisa disebut kutu loncat. Ia memulai kariernya sebagai Manajer Pengembangan Produk PT Mobile Seluler Indonesia, lalu pindah ke PT SkyTelindo Services sebagai General Manager; PT M-Web Indonesia sebagai Direktur Penjualan & Pemasaran; PT Microsoft Indonesia sebagai Direktur Small and Midmarket Solutions & Partners Group (Desember 2002); dan Dell Indonesia (2006) sebagai Director & Country Manager.

Pada Mei 2009 ia bergabung dengan HP Indonesia untuk menduduki posisi Direktur Pengelola Personal Systems Group (PSG). Di sini ia bertanggung jawab atas produk handheld, mulai dari desktop PC, notebook, dan thin client solution (hardware atau terminal yang fungsinya menggantikan komputer/PC di client dalam jaringan yang memiliki kemampuan sama seperti halnya komputer biasa), serta solusi lainnya yang termasuk dalam portofolio PSG untuk pelanggan dari segmen bisnis berbagai skala. Salah satu prestasinya adalah mengerek pertumbuhan notebook HP hingga 94% per tahun.

Megawaty menuturkan, pertumbuhan PC client tahun 2010 mencapai 30%, yang mana notebook mengambil porsi 60%-70%. Itulah sebabnya, ia mengincar pasar daerah yang lebih prospektif. Tak tanggung-tanggung, ia membuat 1000 drop of points di seluruh Indonesia, di antaranya bekerja sama dengan toko-toko yang menjual produk HP. Dijelaskan Megawaty, kunci dari jualan produk elektronik adalah layanan pascajual. Tujuannya, lebih memudahkan dan mendekatkan HP dengan pelanggan. Gagasan ini mendapat penghargaan di tingkat HP worldwide. Terobosan lainnya, menawarkan produk notebook dengan harga yang lebih terjangkau, yaitu HP mini. Selama ini, HP masih dikenal sebagai produk yang mahal atau high price (HP). Ia ingin menghilangkan citra tersebut.

Menurut Megawaty, ia memiliki gaya kepimimpinan yang tegas dengan pendekatan personal. Ia mengungkapkan, ada tiga hal penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pertama, tujuan yang jelas, bisa diutarakan dan mudah dipahami. Kedua, reward ketika mencapai tujuan. Setelah punya kesamaan persepsi, ketiga yaitu memberi tahu cara mencapainya. Maka, ia melihat seorang pemimpin harus memiliki sejumlah karakter, yaitu: visi yang jelas, mampu membangun kerja sama tim, punya keberanian mengambil keputusan, dan integritas. Adapun, “Legacy yang saya inginkan, selain revenue, margin, pangsa pasar, mereka bangga menjadi bagian dari tim dan bisa berkontribusi,” ujarnya.

Megawaty menambahkan, ke depan ia tidak terlalu mempersoalkan posisi menjadi CEO atau tidak, melainkan pada kontribusi. “Saya masih ingin di industri teknologi informasi, dan suka dunia pendidikan,” ujar ibu dari Oscar (11 tahun), Imelda (8 tahun) dan Angelina (6 tahun) ini. Diakuinya, berkarier di industri TI banyak didominasi pria. Toh, hal itu bukan masalah baginya, laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan untuk berprestasi. “With passion, you can change the world,” ia menegaskan.

Ario Setra Setiadi:

Fokus pada CRM

Usianya relatif muda, 43 tahun, tetapi pengalamannya segudang. Ario Sentra Setiadi, begitulah nama lengkapnya. Lulusan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini adalah fasilitator senior Mark Plus Institute of Management (1999-2007), Koordinator Dosen MM Strategic Marketing Universitas Bina Nusantara, dan pemenang Allianz-Binus Teaching Excellence Award 2009.

Di dunia farmasi, Ario telah merambah sejumlah perusahaan. Diawali dengan bergabung di Matrindo & Grup ASRAM tahun 1991 sebagai Manajer Pemasaran, disusul di Jansen Pharmaceutical (1995) sebagai Manajer Produk Senior, lalu menjadi VP Pengembangan Pasar dan Bisnis PT Kartika Bina Medikatama pada 2003, Direktur Pemasaran PT Meiji Pharmaceutical (2004), dan kemudian menjadi Presdir PT IDS Marketing Indonesia dari 2008 hingga sekarang.

Dalam ajang Indonesia Future Business Leaders (IFBL) 2010, Ario meraih posisi kedua setelah Megawaty Khie dari Hewlett-Packard, dengan perolehan skor 78,4. Angka tertinggi diraih Ario pada atribut Time Management sebesar 88, Attitude & Performance serta Communication Skill masing-masing mendapat nilai 86.

Menurut pria kelahiran Madiun, 5 Januari 1967, ini, menjadi komandan perusahaan yang berpusat di Hong Kong itu tidak ringan karena persaingannya sangat ketat. “Ditambah lagi produk Cina yang membanjiri pasar,” ujar Preskom PT Sinergi Bisnis Pratama ini. Untuk mengatasi hal itu, salah satu strateginya adalah fokus pada customer relationship management (CRM). “Mereka perlu special attention,” ujar penyandang gelar Ph.D manajemen dari Washington Int. University, Amerika Serikat, ini.

Di IDS, Ario diberi kebebasan penuh untuk mengatur dan mengelola bisnis di Indonesia. Kantor pusat hanya memberikan anggaran dan target tingkat keuntungan yang harus dicapai, sedangkan pengembangan produk, ekspansi pasar dan keputusan membuka cabang di daerah dilakukannya sendiri. “Pada akhirnya, yang lebih critical dari people management adalah to handle people,” ujarnya menegaskan.

Obed Fuk Liang:

Sang Pionir yang Pantang Mundur

Dunia farmasi adalah bagaikan rumah kedua bagi Obed Fuk Liang. Meskipun latar belakang pendidikannya sarjana teknik industri, alumni Universitas Indonesia Esa Unggul ini telah mendedikasikan hampir seluruh perjalanan kariernya selama 19 tahun untuk industri farmasi. Tak tanggung-tanggung, ia memulai karier dari level terendah yaitu administrator gudang pada 1991 di Kalbe Farma. Dan ia menempati posisi Direktur Penjualan Ethical PT Soho Pharmasi Industri tahun 2009 hingga sekarang. Dalam IFBL 2010, ia meraih posisi ketiga dengan total skor 78,30.

Kelahiran Surabaya 11 April 1973 ini adalah pria yang tangguh dan pekerja keras. Ia tampaknya berhasil menggabungkan kemampuannya sebagai sarjana teknik dengan kecintaan pada penjualan dan farmasi. Ketika bergabung di Soho pada 1995 dan diangkat menjadi Manajer Penjualan tahun 2000, ia merintis penggunaan teknologi informasi di kantornya. Obed melihat alangkah pentingnya TI dalam melancarkan pekerjaan dan koneksi di antara mereka.

Cara pertama yang dilakukan Obed adalah merekrut tim administrator dan mengirim komputer ke cabang-cabang, lalu cabang-cabang itu di-online-kan. Selanjutnya, ia memberikan pelatihan kepada admin. Bahkan ia terlibat penuh dalam pembuatan modul admin pertama kali di Soho. Alhasil, kini semua cabang sudah terkoneksi ke pusat, bahkan semua pemimpin cabang Soho di seluruh Indonesia sudah memakai laptop.

Sebagai komandan dalam penjualan obat etikal di Soho, ia membentuk tim injeksi yang bernama Tiger untuk meningkatkan kinerja timnya. Tim ini menjual produk khusus injeksi. Setelah pembentukan Tiger, produk injeksi Soho naik signifikan, yaitu 70% lebih dari tahun lalu (Januari-September). “Hal itu luar biasa. Tim ini berarti sangat berhasil,” ia menandaskan. Kini, menurutnya, Soho berada di urutan empat perusahaan farmasi terbesar di Indonesia untuk ethical medical. Ini juga yang menjadi alasan Soho kini lebih banyak menggarap pasar ethical dengan bermacam spesifikasi, mulai dari obat generik bermerek dan generik, nutrisi hingga medical device.

Jemsly Hutabarat:

Ciptakan Kultur Baru

daripada Ubah Kultur Lama

Jemsly Hutabarat adalah sosok yang lengkap. Ia tak hanya sukses sebagai profesional tetapi juga aktif sebagai pengajar, pembicara dan penulis sejumlah buku serta kolom di majalah dan harian. Penyandang Master Manajemen dari Universitas Indonesia (bekerja sama dengan Massachusetts Institute of Technology) ini memulai kariernya di Garuda Indonesia pada 1991, dan tahun 2000 bergabung di PT GMF Aero Asia sebagai GM Strategi & Pengembangan Bisnis. Setelah beberapa kali mendapat promosi, tahun 2009 ia menjadi VP Pemasaran & Penjualan GMF.

Membawa GMF (anak perusahaan Garuda Indonesia) hingga go public merupakan target penyandang sarjana hukum (Universitas 17 Agustus, Jakarta) dan sarjana teknik (Universitas Sumatera Utara, Medan) ini. Pria kelahiran Tarutung 10 Januari 1966 ini mengungkapkan, untuk merealisasi hal itu maka harus ada perubahan kultur di GMF yang lekat dengan unsur BUMN. Ia bersyukur kini kultur BUMN di GMF tinggal 50%.


Faisal Muzakki:

Kedepankan Etika Bisnis

Menjadi panutan dan berintegritas merupakan prinsip kepemimpinan Faisal Muzakki. Tampaknya, itu pula yang menjadi kunci suksesnya, sehingga pria kelahiran Mojokerto 21 Desember 1968 ini dipercaya PT Wartsila Indonesia, perusahaan yang membidangi permesinan diesel (seperti power plant dan mesin penggerak kapal), menjabat sebagai Deputi Direktur Servis (2009).

Ia menjelaskan, selama ini dirinya telah melakukan terobosan di perusahaan asal Finlandia itu, yaitu dari hanya menjual suku cadang sebagai bisnis utamanya, kemudian menjadi ke servis. Terobosan ini dilakukan karena saat ini ada tren one stop service, yang mana konsumen tidak ingin repot membeli di banyak tempat. Selain itu, konsumen ingin fokus di bisnis intinya semata. Maka, ia sangat memprioritaskan klaim pelanggan, serta layanan yang on time dan fair.

Dalam ajang Indonesia Future Business Leader 2010, insinyur teknik dari Brawijaya Malang ini meraih posisi nomor 9 dengan total skor 70,5.

Ari Suryanta:

Bermimpi Meraih Posisi sebagai Pemimpin Bisnis

Klop, itulah kata yang pas untuk menggambarkan pengalaman Ari Suryanta, yang tak hanya berlatar belakang di bidang engineering, tetapi juga keuangan. Dengan kombinasi itu ia dinilai tepat menduduki posisi sekarang, Executive Project Manager Cost Effectiveness PT Garuda Indonesia. Ari mengawali kariernya di tahun 1989 sebagai staff contract & cost control Garuda Maintenance Facility. Delapan tahun kemudian (1997), ia dipercaya menjadi General Manager Maintenance & Engineering Controller Garuda. Pada 2004, ia didapuk menjadi Manajer Keuangan BUMN ini untuk wilayah Jepang, Korea, Cina dan Amerika Serikat.

Bagi lulusan Magister Management Air Transportation Universitas Indonesia ini, bekerja di dunia penerbangan memiliki tantangan tersendiri, yaitu preferensi orang terus berubah-ubah. “Kepuasan tidak hanya pada saat on board, tapi mulai dari kontak pertama di call center, check in, saat terbang hingga mengambil bagasi,” ujarnya.

Dalam ajang Indonesia Future Business Leader 2010 ini, Ari berada di posisi kelima dengan perolehan nilai total 76,94. Perolehan tertinggi diraih Ari pada atribut time management dan originality sebesar 83,75 dan 80. Dibandingkan finalis yang lain, kelebihan Ari pada atribut originality. Pada atribut ini Ari berada di posisi kedua setelah Megawaty Khie yang meraih skor 85.

Ari menjelaskan, sebagai maskapai pelat merah, sesungguhnya Garuda ingin menjadi pemimpin pasar, tetapi hal itu tak mudah diwujudkan. Penyebabnya, Garuda bermain di pasar menengah-atas, padahal pasar ini hanya 13% dari total pasar. Di sisi lain, adanya persepsi pasar menengah terhadap Garuda bahwa maskapai ini masih terlalu mahal. Untuk itu, Ari menyarankan agar Garuda menurunkan harga, tetapi tetap konsisten dengan full service. Caranya, Garuda perlu melakukan efisiensi cost. Dengan situasi tersebut, jangan heran, Ari mengaku belum puas dengan posisi kariernya saat ini. Ia masih bermimpi meraih jenjang yang lebih tinggi, yakni pemimpin bisnis.

Budi T. Halim:

Sang Pendobrak yang Tak Gampang Puas

Suka tantangan. Itulah kesan yang tampak dari Budi T. Halim. Setelah cukup lama berkecimpung di sejumlah bank ternama, akhirnya pada 2009 ia memutuskan bergabung dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. (BNP) dengan posisi sebagai Direktur Business & Treasury. Budi menjelaskan, kepindahannya ke BNP karena ia ingin menjadikan bank ini sebagai salah satu bank ritel terbaik dengan skala yang masih kecil. Caranya, mengembangkan produk, SDM dan proses bisnisnya.

Pria yang mengawali kariernya di Bank Bali sebagai account officer & credit analyst (1986) hingga menjadi direktur eksekutif (1998) ini menceritakan, ketika mulai bergabung dengan BNP, kondisi bank tersebut belum kondusif karena ada perubahan manajemen. Lulusan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada ini dipercaya untuk membenahi BNP yang sempat stuck saat itu. Sekarang, kondisi BNP sudah tumbuh dan mulai dikenal masyarakat. “Saya ingin bank ini semakin besar, memberikan value kepada semua stakeholder, dalam arti customer dan employee, bahwa ini perusahaan yang baik. Dan, bagi saya ada kepuasan,” ujar pria berusia 47 tahun ini.

Dalam ajang IFBL 2010, mantan VP Senior Bank Universal (2000) ini meraih posisi ketiga dengan skor 78,19. Menurut mantan Strategic Planning Coordinator for Retail Banking Retail Banking Group Head Mega (2003) ini, seorang pemimpin harus punya visi dan mampu menjelaskan visi tersebut kepada timnya. Setelah itu, pemimpin harus punya strategi kreatif yang berbeda dari perusahaan lain untuk bisa menghadapi persaingan. Yang juga penting, pemimpin harus mendapatkan kepercayaan dari atasan dan tim. gMereka bekerja berdasarkan visi, bukan karena otoritas, karena mereka percaya kita sebagai leader bisa membawa mereka ke tempat yang lebih baik,h ujar mantan Head of Commercial Business di Bank Danamon Indonesia (2004) ini menegaskan.

Rudy Priambodo:

Berani Lakukan Perubahan & Pasang Target

Setelah 15 tahun berkutat di industri elektronik seperti Sony, Philips dan Sharp, Rudy Priambodo memutuskan memasuki dunia keuangan dan perusahaan genteng. Pria kelahiran Surabaya 39 tahun lalu ini punya target: pada usia 35 tahun menjadi general manager dan 40 tahun di level direktur. Nyatanya berhasil, karena pria kelahiran tahun 1971 ini didaulat menjadi GM Penjualan & Pemasaran Electronic City pada 2004, dan GM Distribusi & Pemasaran PT Adira Quantum Multifinance pada 2006. Bahkan, pada 2008 ia dinobatkan menjadi Direktur Penjualan & Pemasaran PT SG Consumer Finance Indonesia, dan Direktur Penjualan & Pemasaran Terreal Indonesia pada awal Mei 2009 (hingga kini).

Ia meyakini seorang pemimpin harus memiliki empat karakter, yaitu visioner, bisa memberdayakan karyawan, seimbang antara kemampuan finance dan human resources, serta mampu menjadi panutan. Dalam ajang IFBL 2010 , ia meraih posisi ke-6 dengan total nilai 73,69.

Benny Prasetyo Kuntoro:

Ingin Fokus di Superband

Menjadi pemimpin pasar di bidang event organizer (musik) merupakan impian Benny Prasetyo Kuntoro. Dan, melalui Bharata Komunika (BK), ia ingin menghadirkan sejumlah superband seperti Metallica (kelompok band metal asal Amerika serikat) ke Indonesia pada 2011. Bahkan, ia juga akan membeli lisensi majalah metal asing dan merilisnya dalam versi bahasa Indonesia. CEO BK ini akan melakukan terobosan dengan membuat konser dan ditayangkan langsung di stasiun teve swasta dan selanjutnya dikemas dalam DVD. Kini pria yang berencana mengundang Justin Bieber tahun depan ini sedang menjajaki konser musisi asing di pelataran Candi Borobudur.

Diungkapkan Benny, esensi promotor hanya mengundang. “Mereka tidak akan bertanya, ‘Siapa kita?’, tapi ‘Berani bayar berapa?’,” ujarnya. Di Indonesia sendiri persoalannya bukan mencari penonton, melainkan mencari sponsor. “Karena harga kami sangat besar,” ujarnya. Dalam IFBL 2010, ia meraih posisi ke-8 dengan skor total 71,63.

Budy Purnawanto:

Bercita-cita Jadi Pemimpin Transformasional

Sebagai Direktur SDM PT Tigaraksa Satria Tbk., Budy Purnawanto melihat ada dua hal yang harus dibenahi ketika ingin memperbaiki manajemen ke dalam, yaitu people dan process. “Untuk memperbaiki people sendiri, ada tiga ukuran, yaitu peningkatan jumlah orang yang kompeten, orang yang berkinerja bagus dan high rate index. Ia yakin jika ketiganya sudah meningkat, strategi di bidang people juga akan berjalan baik.

Di sisi lain, proses harus memiliki ukuran pencapaian terhadap targetnya dan jika ada gap, harus diperbaiki. “Bagi saya, strategi apa pun akan berjalan dengan sendirinya apabila ada orang-orang bagus karena saat ada masalah mereka mampu mencarikan solusinya sendiri,” ujar Budy. Itulah sebabnya, ia melihat pentingnya assessment competencies di setiap posisi supaya bisa diketahui gap-nya. Dalam ajang IFBL 2010, ia memperoleh total skor 67,7 dan menduduki posisi ke-10. (Swa.co.id)